Analisis Nilai Edukatif dalam Novel Love in Pesantren Karya Shachree M. Daroini Sebagai Reformulasi Pola Interaksi Guru dan Murid di Pesantren.

Kamilah, Nisaul. Analisis Nilai Edukatif dalam Novel Love in Pesantren Karya Shachree M. Daroini Sebagai Reformulasi Pola Interaksi Guru dan Murid di Pesantren. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Malang. Marno, M. Ag



Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah santri dalam sebuah pesantren, kyai tidak bisa berdiri sendiri untuk mengayomi seluruh santri. Oleh karena itu, kyai banyak dibantu oleh para guru dalam menggerakkan roda pendidikan di tubuh pesantren. Dalam skripsi ini, penekanan lembaga pendidikan yang dimaksud adalah guru dan murid yang terlibat dalam pendidikan sekolah, dimana sekolah itu sendiri menjadi otoritas pesantren. Sehingga semua kebijakan, baik terkait anggaran, mata pelajaran, bahkan seragam dan lain-lain ditentukan oleh kebijakan pesantren sebagai pengayomnya. Pengejawantahan kitab ta’limul muta’allim yang sporadis membuat pondok pesantren menanamkan nilai-nilai sakti yang terkait dengan interaksi guru dan murid semisal; murid harus sam’an wa to’atan (mendengarkan dan taat), sendhiko dhawuh dengan satu iming-iming klasik, apalagi kalau bukan barokah. Adanya doktrin-doktrin inilah yang seringkali menjadikan murid mandek, stagnan dan tidak kritis. Mereka dituntut untuk menerima segala pengetahuan yang dicekokkan pada mereka sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Guru yang seharusnya demokratis justru menjadi sosok yang bisa jadi memenggal progresifitas, memancung pluralitas, dan membunuh dialektika dan dinamika keilmuan yang senantiasa berkembang. Pada akhirnya, realitas semacam itulah yang membuat banyak pihak melontarkan kritik terhadap pola pendidikan di pesantren. Kritik tajam itu tak hanya dilisankan tapi juga melalui tulisan, dalam bentuk fiksi maupun non fiksi. Salah satu dari banyak tulisan tersebut adalah novel Love in Pesantren karya Shachree M. Daroini yang notabene alumni pondok pesantren. Banyak kritik yang kemudian lahir dari tangan-tangan kreatif yang bisa mensintesiskan antara realitas yang terjadi di lapangan dengan imajinasi sehingga membuahkan novel yang menurut penulis apik, kritis. Relevansi novel Love in Pesantren karya Shachree M. Daroini dengan realitas interaksi guru-murid yang berkembang di sekolah dalam lingkungan pesantren inilah yang membuat penulis tertarik unuk mengadakan analisis novel yang tertuang dalam judul: Analisis Nilai Edukatif dalam Novel Love in Pesantren Karya Shachree M. Daroini Sebagai Reformulasi Pola Interaksi Guru dan Murid di Pesantren.

Tujuan dilakukannya analisis ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam novel ”Love in Pesantren” serta mengetahui dan menganalisis nilai edukatif dari novel yang bisa kita terapkan sebagai reformulasi pola interaksi guru dan murid di pesantren. Penelitian yang penulis lakukan ini termsuk penelitian deskriptif kualitatif dengan metode analisis reflektif. Yakni menganalisis berdasarkan narasi kemudian direfleksikan dalam realitas yang terjadi di dunia nyata dan menggunakan teknik dokumentasi dalam pengumpulan datanya. Peneliti berfungsi sebagai instrumen penelitian karena peneliti merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian. Kegiatan yang dilakukan peneliti sehubungan dengan pengambilan data yaitu, kegiatan membaca teks novel Love in Pesantren dan peneliti bertindak sebagai pembaca yang aktif membaca, mengenali, mengidentifikasi satuan-satuan tutur yang merupakan penanda dalam satuan-satuan peristiwa yang di dalamnya terdapat gagasan-gagasan hingga menjadi sebuah keutuhan makna.

Hasil dari analisis novel ini menunjukkan bahwa nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam novel ”Love in Pesantren” karya Shachree M. Daroini adalah: upaya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, semangat melakukan ritual keagamaan, tolong menolong, menyadari keterbatasan diri, amar ma’ruf nahi munkar, sigap menghadapi masalah, pengembangan pendidikan, kemandirian, prinsip keadilan, menciptakan kondisi lingkungan yang sarat nuansa religius, menghargai perbedaan, menghargai dan menghormati sesama manusia, berfikir kritis mengenai kehidupan, mau memaafkan, mampu menerima kritik, bersikap lembut, welas asih dan ramah pada orang lain, bersikap optimis dan tidak putus asa. Sedangkan dari nilai-nilai edukatif di atas, yang bisa kita terapkan sebagai reformulasi pola interaksi guru dan murid di pesantren adalah: Upaya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, menciptakan kondisi lingkungan yang sarat nuansa religius, menghargai dan menghormati sesama manusia, bersikap lembut, welas asih dan ramah pada orang lain, menghargai perbedaan, prinsip keadilan, berfikir kritis mengenai kehidupan, mampu menerima perubahan, mampu menerima kritik, dan mau memaafkan.

Oleh karena itulah, menurut hemat penulis, pesantren, sebagai lembaga yang sakral dan disakralkan, hendaknya senantiasa mengembangkan keilmuan dan tidak bersikap ekskulusif dalam bersudut pandang. Tidak mengekalkan pengkelasan serta feodalisme yang berakibat pada pengkultusan yang berlebihan. Oleh karenanya, pesantren sepatutnya senantiasa membuka diri untuk mau memahami perbedaan sudut pandang agar tidak terburu-buru memandang segala sesuatunya secara hitam-putih. Baik guru maupun murid di lingkungan pesantren, hendaknya sesegera mungkin menyadari, bahwa dunia telah mengalami kemajuan pesat. Kehidupan global menanti intelektual muslim yang menguasai teknologi dan informasi. Bukan sekedar orang-orang puritan yang gagap teknologi, membenci globalisasi dan mengurung diri tanpa mampu berbuat apa-apa untuk menjadi pioneer di era global. Jika umat muslim tetap terkungkung dalam doktrin yang mengkerdilkan, membatasi nalar kritis dan kreatifitas, mencampakkan kemajuan atas dalih moralitas dan sekulerisme, maka umat Islam takkan pernah lepas dari imperialisme Barat.

Kata Kunci: Nilai Edukatif, Reformulasi Pola Interaksi Guru dan Murid, Pesantren

Download file disini

Teori Medan Lewin Dalam Kerangka Manajemen Komunikasi Sebagai Alternatif Solusi Pemulihan Kondisi Bangsa Pasca Tragedi Bali

Dinamika kehidupan bangsa Indonesia pada tahun 2002 diwarnai dengan berbagai gejolak dalam agenda-agenda politik, keamanan dan ekonomi global, yang juga diperkirakan masih akan terus berkembang dan tidak mudah untuk diprediksikan pada tahun 2003. Perkembangan situasi konflik di berbagai daerah, masih tetap menghadirkan tantangan yang berat bagi upaya memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dengan ketahanan nasional yang kokoh. Sementara itu, isu terorisme telah  menjadi isu internasional yang paling menonjol sepanjang tahun 2002 disamping isu-isu penting lainnya seperti masalah tenaga kerja, lingkungan, HAM, dan liberalisasi perdagangan.
Dampak dan imbas peristiwa 11 September 2001 di New York dan Washington D.C. pada berbagai bidang kehidupan masyarakat dunia terus bergulir sepanjang tahun 2002 dan masih akan terus bergulir pada tahun 2003. Peristiwa itu sebelumnya tidak masuk hitungan atau prediksi siapapun. Namun dampaknya bagi dunia, termasuk bagi Indonesia, sungguh luar biasa. Selain masalah keamanan, aksi teror itu telah berpengaruh signifikan pada bidang ekonomi terutama perdagangan, pariwisata, dan transportasi udara. Malangnya, ketika Indonesia mulai melangkah ke luar dari dampak peristiwa itu, Indonesia dihadapkan pada tragedi bom Bali 12 Oktober 2002. Aksi peledakan bom di Bali tersebut telah membawa dampak yang luas bagi kehidupan politik, ekonomi, perdagangan, investasi, dan pariwisata Indonesia. 
Seperti telah diketahui bahwa Bali adalah pusat pariwisata dan andalan bagi pemerintah Indonesia untuk memperoleh devisa dari sektor pariwisata. Keindahan Pulau Bali merupakan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan luar negeri disamping keasrian panorama dan keanekaragaman budaya sehingga membuat nama Bali menjadi lebih dikenal daripada Indonesia itu sendiri.  Tetapi kondisi tersebut tidak berlaku lagi dengan adanya peristiwa bom Bali yang sangat merugikan  baik secara fisik maupun materi. Berbagai upaya telah diusahakan oleh pemerintah Indonesia untuk melakukan pemulihan kembali kondisi Bali seperti sebelum peristiwa bom Bali tersebut diantaranya dengan mengkampanyekan melalui media masa  baik cetak maupun elektronika yang berisikan kedamaian pasca bom Bali yang bertujuan untuk menarik minat wisatawan untuk kembali ke Indonesia.

Download file disini

Implementasi Program Akselerasi Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Kata Kunci: Program, Akselerasi, Percepatan Belajar, Pembelajaran, dan Pendidikan Agama Islam.

Anak berbakat memiliki kepribadian yang unik Umumnya mereka memiliki minat yang kuat terhadap berbagai bidang yang menjadi interestnya, sangat tertarik terhadap berbagai persoalan moral dan etika, sangat otonom dalam membuat keputusan dan menentukan tindakan, dipadu dengan task commitment yang tinggi. Mereka membutuhkan layanan pendidikan spesifik agar potensi keberbakatannya dapat berkembang sehingga mencapai aktualisasi diri yang optimal. Mendorong aktualisasi potensi keberbakatan anak, pada perkembangannya akan menjadi salah satu pilar kekuatan bangsa dalam pertarungan dan persaingan antar bangsa-bangsa di era global. Tanpa pelayanan  pendidikan yang relevan, anak berbakat akan menjadi kelompok marjinal yang gagal memberikan sumbangan signifikan bagi kemajuan bangsa ini. Jika hal itu dibiarkan terus berlangsung maka sesungguhnya kita telah melakukan “penganiayaan” dan menyia-nyiakan anugerah Ilahi yang amat besar.
Salah satu bentuk pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa adalah melalui program akselerasi (percepatan belajar). Dengan kata lain program untuk mempercepat masa studi bagi peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi. Yang berhak untuk mendapat perhatian khusus agar dipacu perkembangan prestasi dan bakatnya. Misalnya SD diselesaikan dalam 4 tahun, SMP dalam 2 tahun begitu juga dengan tingkat SMA.
Pendidikan agama adalah salah satu pendidikan yang mempunyai fokus untuk lebih memberikan nilai-nilai dan norma-norma yang memberi arah, arti dan tujuan hidup manusia. Dicantumkannya pendidikan Agama dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam Bab VI pasal 15 yang berbunyi: “jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaa, dan khusus”. Hal ini merupakan suatu kebijakan politik pemerintah yang sekaligus memberikan rambu-rambu kepada pengelola dan pelaksana pendidikan Agama  yaitu untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki implikasi moral dan etika yang tinggi.
Oleh karena itu, menjadi penting Pendidikan Agama Islam bagi anak yang memiliki kecerdasan dan bakat tinggi. Sebagai proses penanaman nilai-nilai Islam kepada siswa. Sehingga tidak hanya menjadi siswa yang pintar, tapi juga siswa yang bermartabat dan bermoral. Yaitu memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosi, sosial dan spiritual. Berangkat dari latar belakang inilah, kemudian dalam penelitian ini diambil rumusan masalah: (1) Bagaimana Implementasi Program Akselerasi Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMA Negeri 3 Malang; dan (2) Apa Saja Faktor Pendukung Dan Penghambat Implementasi Program Akselerasi Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMA Negeri 3 Malang.
Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk Mengetahui Implementasi Program Akselerasi Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMA Negeri 3 Malang; dan (2) Untuk Mengetahui Apa Saja Faktor Pendukung Dan Penghambat Implementasi Program Akselerasi Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SMA Negeri 3 Malang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan berparadigma Deskriptif-Kualitatif. Yaitu berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Dan jenis penelitiannya adalah menggunakan teknik analisis Deskriptif (non statistik), yang dilakukan dengan menggambarkan data yang diperoleh dengan kata-kata atau kalimat yang dipisahkan untuk kategori untuk memperoleh kesimpulan.
Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pada dasarnya, secara umum pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di kelas akselerasi SMA negeri 3 Malang adalah tidak jauh berbeda dengan pelaksanan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di kelas reguler. Meliputi: sistem  pembelajaran, dan sistem evaluasinya. Demikian pula halnya dengan kegiatan-kegiatan di luar kelas, seperti kegiatan ekstrakurikuler. Hanya saja yang membedakannya dengan kelas reguler bahwa kelas  akselerasi diperuntukkan bagi anak-anak yang luar biasa cerdas dan memiliki keunggulan dalam kecepatan berfikir. Dengan kurikulum yang dikembangkan (secara berdiferensiasi) disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan siswa berbakat. Yaitu waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan pendidikan program akselerasi lebih cepat dari pada program reguler pada umumnya.
         Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pelaksanaan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas akselerasi, ada Beberapa faktor yang mempengaruhi. Baik faktor pendukung maupun faktor penghambat. Salah satu faktor pendukung tersebut -disamping pihak sekolah- yang diharapkan mampu menyelenggarakan program akselerasi khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) ini secara efektif dan efisien, dukungan positif dan partisipasi aktif pihak orang tua dan masyarakat serta pemerintah juga diperlukan. Sedangkan beberapa faktor yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas akselerasi, diantaranya seperti: minimnya standar kompetensi guru, metode pembelajaran yang kurang variatif, dan alokasi waktu yang sedikit untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Pada kenyataannya, yang demikian itu memang sudah menjadi polemik nasional yang menjadi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di tanah air. Terlepas dari itu semua, permasalahan yang berhubungan dengan siswa akselerasi dalam pelaksanaannya di SMA Negeri 3 Malang tidak menjadi suatu problem yang berarti.
 
Download file disini

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TENTANG PROFESIONALISME GURU DENGAN KEBERHASILAN BELAJAR SISWA KELAS III DI MTS.N GRABAG KABUPATEN MAGELANG

Nur Alamsiyah (NIM. 3199102). Hubungan antara Persepsi Siswa tentang Profesionalisme Guru dengan Keberhasilan Belajar Siswa Kelas III di MTs.N Grabag Kabupaten Magelang. Skripsi. Semarang : Program Strata 1 Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Walisongo, 2004.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Tingkat persepsi siswa tentang profesionalisme guru di MTs.N Grabag, (2) Tingkat keberhasilan belajar siswa di MTs.N Grabag, (3) Hubungan antara persepsi siswa tentang profesionalisme guru dengan keberhasilan belajar siswa di MTs.N Grabag Kabupaten Magelang. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik korelasi. Subyek sebanyak 58 responden, menggunakan teknik random sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen kousioner untuk memperoleh data (X) atau profesionalisme guru, dan informasi dokumenter untuk memperoleh data (Y)
atau nilai raport.

Data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif. Pengujian hipotesis penelitian menggunakan analisis regresi dan korelasi (Analisis Regresi Satu Prediktor dengan Skor Deviasi). Pengujian hipotesis penelitian menunjukkan bahwa :
1. Tingkat persepsi siswa tentang profesionalisme guru di MTs.N Grabag termasuk dalam kategori cukup dengan rata-rata sebesar 83,93.
2. Tingkat keberhasilan belajar siswa di MTs.N Grabag termasuk dalam kategori baik dengan rata-rata sebesar 112,38.
3. Ada hubungan yang positif atau signifikan antara persepsi siswa tentang profesionalisme guru dengan keberhasilan belajar siswa di MTs.N Grabag Kabupaten Magelang. Hal ini ditunjukkan oleh nilai F hitung : 8,335 yang lebih besar daripada F tabel untuk taraf signifikan 5 % (4,02) dan taraf signifikan 1 % (7,12).

Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi semua pihak terutama yang berada di MTs.N Grabag, baik bagi Kepala Sekolah, tenaga pengajar (guru), para staf dan semua siswa MTs.N Grabag. Diharapkan kepada para guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru benar-benar profesional atau dilakukan secara benar agar senantiasa dapat meningkatkan motivasi belajar siswa secara lebih baik lagi.

Download file disini

Penggunaan Metode Kuis Tim Untuk Meningkatkan Tanggungjawab Siswa Dalam Kelompok Belajar


Abstrak: Beberapa masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru di sekolah beraneka ragam,antara lain adalah masalah menurunnya tanggung jawab siswa dalam penyelesaian tugas-tugasnya dalam belajar. Menyikapi hal ini tentu memerlukan upaya yang serius untuk mengatasi masalah ini dengan segera. Untuk memecahkan masalah menurunnya tanggungjawab siswa ini harus menggunakan strategi atau metode dan pendekatan  tertentu.Metode yang dipandang sangat tepat,salah satunya adalah metode pembelajaran aktif kuis tim.Dengan metode kuis tim diharapkan dapat meningkatan tanggungjawab siswa dalam kelompok belajar.


Abstraction: Some problem of study faced by teacher school all kinds of, for example downhill problem student responsibility in solving of its dutys in learning. this Matter attitude of course need serious effort to overcome this problem immediately. For to downhill solving problem this student responsibility have to use method or strategy and special approach. looked into method very precise, its [of] him [is] active study method [of] team quiz. With team quiz method expected can improve student responsibility in group learn.

Key Word: Active study quiz team, Student responsibilty, Group learn. 

Download file here

Manusia Modern Di Simpang Jalan

Judul Buku       : Cinta dan Keterasingan
Penulis              : Khoirul Rosyadi
Penerbit            : LKiS-Yogyakarta
Tahun Terbit     : 2000
Tebal                : 123 Halaman

  
            Problematika kehidupan yang “menganga” di sepanjang sudut-sudut “gang” kehidupan manusia modern, yang sering dilontarkan oleh para pemerhati sosial dan agamawan, adalah krisis  spiritual, iman dan cinta. Krisis demikian  terjadi bukan karena horizon spiritual, iman dan cinta itu tidak ada melainkan karena manusia modern -dalam istilah filsafat perennial- “hidup di pinggir lingkaran eksistensi”. Manusia modern hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang pingggiran eksistensinya  tidak pada “pusat spiritualitas dirinya”, sehingga mengakibatkan ia lupa siapa dirinya.
            Demikian kira-kira manusia modern yang dilukiskan dalam buku ini yang  menggambarkan secara filosofis “keterasingan” dan “krisis kemanusiaan” di era modern, dengan menampilkan obat alternatif berupa “Cinta” dari berbagai seginya. 
            Manusia modern adalah pribadi yang sepenuhnya dan secara absolut terasing.. Ia sudah menjadi masyarakat teknokratik dan industrialistik yang cenderung bergerak dari warga negara yang takterkordinir pada kesadaran individu. Manusia modern dengan mudah dapat diredusir menjadi unit-unit matematik yang dengan mudah dapat diukur melalui angka-angka, kepribadiannya dapat diungkapkan dalam kartu identitas (punched card). Manusia modern tidak lagi mengalami dirinya sendiri sebagai pusat dunianya dan pencipta aktivitas-aktivitasnya sendiri - tetapi semua tindakan dan dampaknya menjadi majikannya, yang ia taati dan bahkan ia sembah.

Download file disini

Manusia Modern Di Simpang Jalan

Judul Buku       : Cinta dan Keterasingan
Penulis              : Khoirul Rosyadi
Penerbit            : LKiS-Yogyakarta
Tahun Terbit     : 2000
Tebal                : 123 Halaman

            Problematika kehidupan yang “menganga” di sepanjang sudut-sudut “gang” kehidupan manusia modern, yang sering dilontarkan oleh para pemerhati sosial dan agamawan, adalah krisis  spiritual, iman dan cinta. Krisis demikian  terjadi bukan karena horizon spiritual, iman dan cinta itu tidak ada melainkan karena manusia modern -dalam istilah filsafat perennial- “hidup di pinggir lingkaran eksistensi”. Manusia modern hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang pingggiran eksistensinya  tidak pada “pusat spiritualitas dirinya”, sehingga mengakibatkan ia lupa siapa dirinya.
            Demikian kira-kira manusia modern yang dilukiskan dalam buku ini yang  menggambarkan secara filosofis “keterasingan” dan “krisis kemanusiaan” di era modern, dengan menampilkan obat alternatif berupa “Cinta” dari berbagai seginya. 
            Manusia modern adalah pribadi yang sepenuhnya dan secara absolut terasing.. Ia sudah menjadi masyarakat teknokratik dan industrialistik yang cenderung bergerak dari warga negara yang takterkordinir pada kesadaran individu. Manusia modern dengan mudah dapat diredusir menjadi unit-unit matematik yang dengan mudah dapat diukur melalui angka-angka, kepribadiannya dapat diungkapkan dalam kartu identitas (punched card). Manusia modern tidak lagi mengalami dirinya sendiri sebagai pusat dunianya dan pencipta aktivitas-aktivitasnya sendiri - tetapi semua tindakan dan dampaknya menjadi majikannya, yang ia taati dan bahkan ia sembah.

Download file disini

Peranan Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Pribadi Muslim

Manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini perlu menempatkan diri sepanjang fitrahnya. Al-Qur’an adalah sumber pemberi arah, bagaimana seorang muslim memilih metode geraknya sesuai dengan kehendak Allah SWT. Dia lebih mengetahui, apa yang baik diperlukan manusia untuk memenuhi hasratnya, yaitu keselamatan dan kesejahteraan hidupnya didunia dan akhirat. Untuk mencapai itu, Allah SWT menurunkan perintah dan larangan dalam berbagai bentuk bagi manusia yang dinukilkan didalam Al-Qur’an dengan tersurat dan tersirat. Semua bentuk larangan dan perintah diukur sedemikian rupa, sehingga seluruhnya sesuai dengan daya kemampuan manusia itu sendiri.
            Pendidikan Agama Islam sejak awal merupakan salah satu usaha untuk menumbuhkan dan memantapkan kecenderungan tauhid yang telah menjadi fitrah manusia. Agama menjadi petunjuk dan penuntun kearah yang benar.
            Oleh karena kepribadian manusia meliputi tiga aspek, yaitu aspek jasmaniyah, kejiwaan dan kerohanian, akan dapat menjadi sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia bila dilandasi dengan dasar agama. Karena itu, pendidikan agama sangat berperan dalam membentuk kepribadian seseorang, terutama kepribadian muslim Lebih-lebih pendidikan agama itu diberikan secara intensif dan kentinew. Karena pada dasarnya memiliki kepribadian yang baik adalah dambaan semua orang. Karena dengan itu, ia akan dihormati, disegani dan dicintai oleh orang di sekitarnya.
Berdasarkan pernyataan diatas, penulis merasa tertarik mengadakan penelitian dengan judul “Peranan Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Pribadi Muslim Siswa SMP Lab Universitas Negeri Malang”, dalam hal ini rumusan masalahnya adalah: 1). Bagaimana pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SMP Lab Universitas Negeri Malang. 2). Bagaimana Perilaku siswa. 3). Bagaimana peranan Pendidikan Agama Islam dalam membentuk kepribadian muslim siswa. Dan bertujuan untuk:1). Mengetahui pelaksanaan pendidikan agama islam. 2). Mengetahui kepribaian muslim siswa.
Penulis Menggunakan pendekatan teoritis yang disajikan dalam bab pertama dan kedua, yang masing-masing membahas pendahuluan dan tinjauan teoritis, sedangkan dalam analisa data ada dalam bab ketiga. Dalam pemabahasan ini penulis mengganakan metode interviuw, observasi, angket dan dokumentasi.
Dari hasil penelitian penulis menemukan bahwa pelaksanaan Pendidikan Agama Islam sudah cukup baik terbukti sudah mengikuti prosedur-prosedur yang dipergunakan dalam melangsungkan proses belajar mengajar. Sedangkan mengenai kepribadian muslim yang dimiliki oleh siswa banyak variabel kearah yang baik, sehingga dapat dikatakan cukup. Dari sini maka Pendidikan Agama Islam berperan penting dalam membentuk kepribadian siswa di SMP lab Universitas Negeri Malang.

Download file disini

Akar Pemikiran Teologis Aswaja

Judul                : Al-Ushul al-Fikriyyah li Mazhab Ahl as-Sunnah
Penulis              : DR. Abdul Lathif Muhammad al ‘Abd
Penerbit            : Dar an-Nahdhah al-‘Arabyiyah (tt.)
Tebal                : 161 halaman
Peresensi          : M. Zainuddin
__________________________________________________________________________
           
            Kitab yang berjudul Al-Ushul al-Fikriyyah li Mazhab Ahl as-Sunnah ini berisi ushul (pokok bahasan penting) tentang pemikiran dasar Ahl as-Sunnah wa ‘l-Jama’ah (selanjutnya disingkat ASWAJA).
            Ada dua pembahasan penting dalam karya ini: pertama tentang prinsip-prinsip ajaran ASWAJA; dan yang kedua tentang sikap ASWAJA terhadap sebagian mutakallimin yang dianggap memiliki pemikiran menyimpang.
            Menurut penulis kitab ini, golongan ASWAJA adalah golongan yang meyakini keesaan Allah dan menyepakati prinsip-prinsip kebenaran agama yag bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits yang terdiri dari para fuqaha’, qurra’ ahli Hadis dan para mutakallimin (h. 22-24).
           Mengutip pendapat Al-Baghdadi dalam karyanya, Al-Farq Bain al-Firaq, penulis kitab ini menyebutkan 8 (delapan) kriteria yang dianggap sebagai kelompok ASWAJA, antara lain: 1.Kelompok yang menguasai persoalan-persoalan teologi, imamah, ijtihad dan sebagainya, kelompok yang meyakini sifat-sifat Tuhan, bukan kelompok Ahl al-bid’ah seperti Rafidhah, Khawarij, Jahmiyah dan semua aliran sesat lainnya; 2. Para imam fiqh dari kelompok Ahl ar-Ra’y dan Ahl al-Hadits yang mempercayai sifat-sifat Allah yang azali, bukan kelompok Qadariyah dan Mu’tazilah; 3. Kelompok yang memakai sumber akhbar dan sunnah ma’tsurah dari nabi yang memahami persoalan-persoalan al-Jarh wa at Ta’dil.
            Meski sebuah karya ringkasan --sebagaimana penuturan penulisnya--  kitab ini ternyata berisi berbagai persoalan: mulai dari persoalan teologi sampai pesoalan ijtihad.
            Pandangan ASWAJA yang elementer adalah soal sifat Tuhan. Menurut ASWAJA, Tuhan memiliki sifat-sifat azali dan abadi, seperti al-hayah, al-ilm, al-qudrah, al-iradah, as-sam’u, al-bashr, dan al-kalam. ASWAJA menolak pendapat kaum Rafidhah yang berpendapat bahwa sifat-sifat Tuhan adalah baru. Demikian juga menolak pendapat Mu’tazilah yang menafikan sifat-sifat Tuhan. .Menurut ASWAJA, sifat hidup (al-hayah) Tuhan berbeda dengan hidup manusia atau makhluk lain. Hidup Tuhan adalah tanpa ruh, karena ruh adalah makhluk. Dan hidup (al-hayah) bagi makhluk adalah hidup seperti layaknya manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan yang berkembang biak (h. 45-46). Oleh sebab itu ASWAJA menolak anggapan kaum Kristiani tentang qadimnya (Tuhan) anak dan ruh Qudus di sisi Tuhan (Allah).

Download file disini

DEMOKRATISASI PENDIDIKAN ISLAM

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) konsep dasar demokrasi (2)
konsep demokratisasi pendidikan Islam menurut Abdul Munir Mulkhan (3)
relevansi demokratisasi pendidikan Islam menurut Abdul Munir Mulkhan
terhadap tujuan pendidikan Islam.
Penelitian ini menggunakan metode riset kepustakaan (Library Research).
Kemudian data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan metode induktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dasarnya prinsip demokrasi itu
memberi hak semua orang untuk mengambil keputusan dan juga demokrasi
memandang semua orang mempunyai posisi yang setara. Oleh karena itu dalam
demokrasi harus ada yang namanya kebebasan, harus ada penghormatan akan
martabat orang lain, harus ada persamaan dan juga harus dapat menjamin
tegaknya keadilan.
Atas dasar konsep demokrasi tersebut, Abdul Munir Mulkhan berusaha
untuk menghadirkan konsep pendidikan Islam yang demokratis dalam rangka
menjembatani permasalahan-permasalahan yang ada. Selama ini pendidikan Islam
di anggap tidak demokratis, karena hanya sekedar transfer of knowledge atau
transfer of value. Sehingga murid hanya sekedar menerima nilai-nilai yang sudah
ada tanpa bisa berpikir kritis dalam mengembangkan dirinya. Untuk itu,
pendidikan Islam yang demokratis haruslah pendidikan yang bisa memberikan
kesempatan kepada semua siswa untuk terlibat langsung dalam mengembangkan
kemampuannya, sehingga bisa menjadi manusia yang kritis dan kreatif.
Selain itu pendidikan Islam juga harus dapat memberi peluang kepada
semua orang di semua zaman untuk dapat membaca, memahami, menafsirkan Alqur’an
diatas dasar prinsip keterbatasan dan kemampuan manusia. Karena pada
Al-qur’an diturunkan dimuka bumi ini adalah untuk semua orang di semua zaman.
Oleh karena itu Al -qur’an sebagai pedoman dan petunjuk perlu dan pasti
dipahami dalam kapasitas dan keterbatasan manusia. Sehingga akan menjadikan
umat Islam kaya akan ilmu pengetahuan dan juga terhindar dari pengertian
dikotomik serta dapat bersaing dengan negara maju.

Download file disini
 
Copyright © Celotehan Warung Kopi