Pengaruh Lingkungan dan Pendidikan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar -Tesis


Pengaruh Lingkungan dan Pendidikan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar -Tesis

Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor eksternal meliputi lingkungan dimana siswa tersebut berada, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Di lingkungan keluarga, orang tua sangat berperan dalam meningkatkan prestasi siswa. Namun, lingkungan tempat tinggal juga berpengaruh yang akurat terhadap peningkatan prestasi tersebut.

ABSTRAK

Sungeb, Program Pascasarjana (S-2) Universitas Kanjuruhan Malang " Pengaruh Lingkungan Tempat Tinggal dan Pendidikan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) (Studi Terhadap Siswa di SDN I Semanding Kecamatan Pucanglaban Kabupaten Tulungagung) ", Komisi Pembimbing, Ketua: Prof.Dr. Lilik Kustiani ,SS , MM Anggota: Drs.H.Moch.Amir Sutedjo,SH,MPd.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui adanya pengaruh yang signifikan antara lingkungan tempat tinggal terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS. (2) mengetahui adanya pengaruh yang signifikan antara pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS. (3) mengetahui adanya pengaruh secara bersama-sama antara lingkungan tempat tinggal dan pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif korelatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh seluruh siswa yang ada di SDN Semanding 1. Sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan mengambil 90 % dari populasi. Sedangkan teknik dan instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah (1) teknik observasi, dokumentasi, dan angket. Analisis data dengan menggunakan analisis statistik dengan analisis regresi linier berganda memakai uji t dan uji F.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan tempat tinggal terhadap prestasi belajar siswa di SDN Semanding 1 Pucanglaban Tulungagung. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi t yang lebih kecil dari α (0,000 < 0,05) dan thitung yang lebih besar dari ttabel (4,900 > 2,000); (2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar siswa di SDN Semanding 1 Pucanglaban Tulungagung. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi t yang lebih kecil dari α (0,003 < 0,05) dan thitung yang lebih besar dari ttabel (3,013 > 2,000); (3) Terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan (bersama-sama) antara lingkungan tempat tinggal, dan pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar siswa di SDN Semanding 1 Pucanglaban Tulungagung. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi F yang lebih kecil dari α (0,000 < 0,05) dan Fhitung yang lebih besar dari Ftabel (25,801 > 8,570).

Download file lengkap Pengaruh Lingkungan dan Pendidikan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar disini

Penggunaan Alat peraga dan Cara Belajar Terhadap Prestasi Belajar

Penggunaan Alat peraga dan Cara Belajar Terhadap Prestasi Belajar
SUHARTI, Program Pasca Sarjana Universitas Kanjuruhan Malang, Pengaruh Persepsi Tentang Penggunaan Alat peraga dan Cara Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa ( Studi di Sekolah Dasar Negeri Segugus IV Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung). Komisi Pembimbing, Ketua : Prof. Dr. Lilik Kustiani,SS., M.M. Anggota : Drs. H Amir Sutedjo, SH., M.Pd.

Didalam kelas guru merupakan orang yang sangat penting dalam penyampaian materi pelajaran. Jika penyampaian materi tersebut tidak menarik minat siswa, hal ini akan berakibat siswa akan sulit menerima materi pelajaran. Oleh karena itu seorang guru harus mencari alat peraga pembelajaran dan cara belajar yang bervariasi agar siswa tidak cepat jenuh. Penggunaan alat peraga mempunyai peranan yang cukup penting dalam proses pembelajaran.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui dan menganalisis pengaruh persepsi siswa tentang penggunaan alat peraga terhadap prestasi belajar siswa. (2) mengetahui dan menganalisis pengaruh cara belajar terhadap prestasi belajar siswa. (3) mengetahui dan menganalisis pengaruh persepsi siswa tentang penggunaan alat peraga dan cara belajar terhadap prestasi belajar siswa.

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SD Negeri segugus IV Kecamatan Pucanglaban Kabupaten Tulungagung sejumlah 35 siswa. Dari total populasi tersebut diambil seluruhnya sebagai sampel penelitian, sehingga jumlah sampel adalah 35 siswa. Data-data penelitian tentang penggunaan alat peraga, data tentang cara belajar diperoleh melalui angket dengan menggunakan skala likert dan data prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial diperoleh dengan menggunakan metode dokumentasi. Selanjutnya data-data penelitian tersebut dianalisis dengan menggunakan teknik regresi linier ganda dengan bantuan computer SPSS versi 17.0.

Secara umum hasil analisis menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa diperoleh nilai r hitung = 76,71 tingkat signifikan 0,000 dengan demikian hipotesis 1 diterima secara signifikan. Hasil analisis data cara belajar siswa diperoleh nilai r hitung = 69,71 tingkat signifikan 0,000 dengan demikian hipotesis 2 diterima secara signifikan.

Kesimpulan sebagai temuan hasil penelitian ini adalah (1) terdapat pengaruh yang signifikan persepsi siswa tentang penggunaan alat peraga terhadap prestasi belajar siswa. (2) Terdapat pengaruh yang signifikan cara belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa. (3) Secara bersama-sama terdapat pengaruh yang signifikan persepsi siswa tentang penggunaan alat peraga dan cara belajar terhadap prestasi belajar siswa.

Download file tesis Penggunaan Alat peraga dan Cara Belajar Terhadap Prestasi Belajar lengkap disini

Pengaruh Motivasi Belajar Dan Kebiasaan Belajar Terhadap Prestasi Belajar - TESIS

Pengaruh Motivasi Belajar Dan Kebiasaan Belajar Terhadap Prestasi Belajar
Motivasi belajar adalah dorongan dari dalam atau dari luar diri seseorang atau individu dengan penuh kesadaran untuk bertindak atau melakukan sesuatu demi tercapainya tujuan tertentu yang sesuai dengan fungsi dan motivasi yaitu : 1. Mendorong manusia untuk berbuat, 2. mendorong manusia untuk menentukan arah perbuatan 3. Mendorong manusia untuk menyelesaikan perbuatannya dengan demikian ketiga fungsi tersebut akan menentukan intensitas belajar, menentukan tujuan yang ingin dicapai serta bersifat selektif terhadap bentuk kegiatan belajar yang dapat memberikan hasil yang lebih baik.

ABSTRAK

RUBINGAT, 2012, Pengaruh Motivasi Belajar Dan Kebiasaan Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Studi di SDN 1 Tamanan Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung. Tesis program studi pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Program Pasca Sarjana Universitas Kanjuruhan Malang
Ketua : Prof. H. Bambang Swasto, ME, Anggota : 1). Prof. Dr. Lilik Kustiani, SS, MM 2) Drs. H. Amir Sutedjo, SH, M.Pd

Kata Kunci : Motivasi belajar, kebiasaan belajar, prestasi belajar.

Motivasi belajar adalah dorongan dari dalam atau dari luar diri seseorang atau individu dengan penuh kesadaran untuk bertindak atau melakukan sesuatu demi tercapainya tujuan tertentu yang sesuai dengan fungsi dan motivasi yaitu : 1. Mendorong manusia untuk berbuat, 2. mendorong manusia untuk menentukan arah perbuatan 3. Mendorong manusia untuk menyelesaikan perbuatannya dengan demikian ketiga fungsi tersebut akan menentukan intensitas belajar, menentukan tujuan yang ingin dicapai serta bersifat selektif terhadap bentuk kegiatan belajar yang dapat memberikan hasil yang lebih baik.

Kebiasaan belajar berarti perulangan aktivitas yang sejenis dengan menggunakan pertimbangan dan fungsi akal seminimal mungkin atau kebiasaan belajar adalah pola aktivitas belajar yang berulang, tetap dan seragam baik secara sadar maupun tidak.

Prestasi belajar adalah suatu kegiatan yang akan mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku ini ada yang bersifat pengetahuan suatu hafalan ada juga yang menyatakan ketrampilan, sedangkan tinggi rendahnya hasil yang telah dicapai siswa baik yang dinyatakan dengan angka-angka tetapi ada juga yang dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat.

Penelitian ini menggunakan statistik SPSS dengan teknik korelasi, yaitu korelasi product Moment Pearson digunakan untuk mencari pengaruh dari masing-masing variabel bebas / Prediktor (1 dan 2) dengan variabel terikat / kriterium yaitu hubungan antara motivasi belajar dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar dengan responden 40 siswa. Secara umum hasil analisa secara diskriptif menunjukkan bahwa motivasi belajar dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS ada masalah yang signifikan. 

Dari hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan hasil belajar siswa setelah motivasi belajarnya ditingkatkan. Ada perbedaan hasil belajar siswa antara yang memiliki Kebiasaan belajar yang baik terhadap prestasi belajar bidang studi IPS pada SD Negeri I Tamanan Kec. Tulungagung, Kab. Tulungagung.

Download tesis Pengaruh Motivasi Belajar Dan Kebiasaan Belajar Terhadap Prestasi Belajar disini

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Skripsi - Celotehan Warung Kopi

Dasar Penulisan Karya Ilmiah Skripsi


Penulisan karya ilmiah merupakan salah satu ciri pokok kegiatan perguruan tinggi. Melalui penulisan karya ilmiah, anggota masyarakat akademik pada suatu perguruan tinggi dapat mengkomunikasikan informasi baru, gagasan, kajian, dan hasil penelitian. Untuk mendukung kegiatan ilmiah tersebut diperlukan suatu pedoman tentang penulisan karya ilmiah. Pedoman penulisan karya ilmiah memberikan petunjuk cara menulis skripsi.

penulisan karya ilmiah

Skripsi merupakan salah satu karya ilmiah dalam suatu bidang studi yang ditulis oleh mahasiswa Program Sarjana (S1) pada akhir studinya. Karya ilmiah ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan program studi mahasiswa yang dapat ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan, hasil kajian pustaka, atau hasil kerja pengembangan (proyek).

Penulisan Karya Ilmiah Skripsi Berdasarkan Jenis Penelitiannya


Skripsi hasil penelitian lapangan adalah jenis penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris di lapangan. Ditinjau dari pendekatan yang digunakan, penelitian lapangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif adalah suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, maupun pemahaman peneliti berdasarkan pengalamannya, kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahan-pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di lapangan.

Sedangkan penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instramen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang penuh keotentikan.

Kajian pustaka adalah telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya bertumpu pada penelitian kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Telaah pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan data atau informasi dari berbagai sumber pustaka yang kemudian disajikan dengan cara baru dan atau untuk keperluan baru. Dalam hal ini bahan-bahan pustaka itu diperlukan sebagai sumber ide untuk menggali pemikiran atau gagasan baru, sebagai bahan dasar untuk melakukan deduksi atau sebagai dasar pemecahan masalah.

Kerja pengembangan adalah kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah aktual. Dalam hal ini, kegiatan pengembangan ditekankan pada pemanfaatan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau temuan-temuan penelitian untuk memecahkan masalah. Skripsi yang ditulis berdasarkan hasil kerja pengembangan menuntut format dan sistematika yang berbeda dengan skripsi ditulis berdasarkan hasil penelitian, sebab karakteristik kegiatan pengembangan dan kegiatan penelitian tersebut berbeda. Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya menguji jawaban yang diajukan terhadap suatu permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan atau teori untuk memecahkan suatu permasalahan. Setiap mahasiswa wajib mengetahui dan memahami tentang pedoman penulisan karya ilmiah skripsi.

Otonomi Daerah dan dampaknya Terhadap Dunia Pendidikan

Sejarah Otonomi Daerah Bidang Pendidikan di Indonesia


otonomi pendidikan indonesia
Salah satu tuntutan masyarakat untuk mereformasi tatanan kenegaraan adalah otonomi daerah. Tuntutan ini menjadi urgen dan mendesak ketika sebagian anak bangsa sudah mulai tercerahkan dan sadar setelah ‘dikibuli’ rezim orde baru yang menerapkan pemerintahan sentralistik-diskriminatif. Selama lebih tiga dasa warsa masyarakat dipangkas hak-haknya, bahkan nilai-nilai kemanusiaan-pun harus diseragamkan sedemikian rupa dengan dalih 'persatuan dan kesatuan'. Pasca pemerintahan orde baru, pemerintah mulai berusaha mengakomodasi tuntutan tersebut yang kemudian dikristalisasikan dalam UU No.22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, dan UU No.25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.

Sesuai dengan pasal 11 ayat (2) terdapat sebelas bidang yang wajib dilaksanakan oleh daerah kabupaten dan daerah kota, yaitu; pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, pertambangan, industri dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, pertahanan, koperasi dan tenaga kerja. Dalam tataran konsep, otonomisasi terhadap sebelas bidang tersebut dirasa cukup bagus dan dapat memenuhi tuntutan masyarakat, tetapi langkah operasionalisasinya akan menimbulkan permasalahan-permasalahan baru yang perlu dipertimbangkan lebih mendalam, terutama otonomi di bidang pendidikan.

Dengan menyimak isi UU No.22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintahan pusat dan daerah, dapat disimpulkan bahwa fokus pelaksanaan otonomi daerah adalah di daerah kabupaten dan daerah kota. Untuk itu sebagian besar sumber pembiayaan nasional akan dilimpahkan lebih banyak ke daerah sesuai dengan potensi dan kemampuan perekonomian daerah yang berbeda-beda, sementara kewenangan pemerintah terbatas dengan dukungan sumber pembiayaan yang terbatas pula. Sebagai konsekuensi-nya, maka berdasarkan pasal 7 ayat (2), Pemerintah, dalam hal ini Departemen pendidikan Nasional, hanya menetapkan kebijakan perencanaan dan pembangunan nasional secara makro, standarisasi, kontrol kualitas di bidang pendidikan termasuk kebudayaan yang bersifat nasional. Dengan demikian, dari segi kewenangan maupun sumber pembiayaan di bidang pendidikan dan kebudayaan, Daerah kabupaten dan daerah kota akan memegang peranan penting terutama dalam pelaksanaannya.

Dampak Otonomi Daerah Terhadap Pendidikan di Indonesia


Sebagai dampak otonomisasi daerah terutama pada bidang pendidikan di atas, terdapat beberapa permasalahan yang perlu dipertimbangkan lebih mendalam, yaitu yang terkait dengan; kepentingan nasional, mutu pendidikan, efisiensi pengelolaan, pemerataan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas.

Pertama, Dalam skala nasional pemerintah mempunyai beberapa kepentingan antara lain sejalan dengan isu wajib belajar (Wajar) dan sebagai upaya mewujudkan salah satu tujuan nasional "mencerdaskan kehidupan bangsa" (Pembukaan UUD 1945), demikian juga seperti yang tertuang dalam pasal 31 ayat 1 UUD 1945 tentang hak mendapatkan pengajaran. Persoalannya, bagaimana melalui otonomi daerah, yang besarnya potensi dan sumber pembiayaan berbeda, dapat menjamin agar tiap-tiap negara memperoleh hak pengajaran. atau bagaimana dengan otonomi daerah tersebut dapat menjamin bahwa Wajib Belajar pendidikan dasar sembilan tahun dapat dituntaskan di semua daerah kabupaten/kota dalam waktu yang relatif sama. Isu lainnya adalah pembentukan "national character building", bahwa otonomi daerah dilaksanakan dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia, yang diharapkan warga negara tetap mengetahui hak dan kewajibannya serta memiliki jiwa patriotisme, religius, cinta tanah air, dan seterusnya. Persoalannya, bagaimana pendidikan dapat mengamankan program pendidikan dengan memberikan peluang kreatifitas dalam keragaman daerah, tetapi semuanya mengarah secara sentripetal ke kepentingan nasional melalui muatan yang sama dalam upaya ke arah pembentukan "national character building" tersebut.

Kedua, peningkatan mutu. Bahwa salah satu dasar pemikiran yang melandasi lahirnya undang-undang pemerintah daerah 1999 adalah untuk menghadapi tantangan persaingan global. dengan demikian mutu pendidikan diharapkan tidak hanya memenuhi standar nasional tetapi juga perlu memenuhi standar internasional. Persoalannya, bahwa otonomi pendidikan sepenuhnya dilakukan oleh Daerah Kabupaten/Kota yang kualitas sumberdaya, prasarana, dan kemampuan pembiayaannya bisa sangat berbeda, dalam konteks ini pendidikan di satu sisi berhasil meningkatkan aspirasi pendidikan masyarakat, namun di sisi lain mutu pendidikan merosot karena sumber dana untuk mendukungnya terbatas.

Ketiga, efisiensi pengelolaan. bahwa otonomi daerah diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan dan efisiensi dalam pengalokasian anggaran. Hal ini bisa terjadi sebaliknya. pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa dengan otonomi daerah biaya operasional pendidikan justru meningkat, hal ini disebabkan antara lain karena bertambahnya struktur organisasi daerah sehingga memerlukan personil yang lebih besar, terlebih lagi jika ditambah dengan kualitas personil yang tidak profesional. Indonesia yang selama 32 tahun menganut sistem pengelolaan yang sangat sentralistik akan mempunyai problem efisiensi pengelolaan seperti tersebut di atas.

Keempat, pemerataan. Pelaksanaan otonomi pendidikan diharapkan dapat meningkatkan aspirasi masyarakat yang diperkirakan juga akan meningkatnya pemerataan memperoleh kesempatan pendidikan. tetapi ini akan dibayar mahal dengan semakin tingginya jarak antar daerah dalam pemerataan akan fasilitas pendidikan yang akhirnya akan mendorong meningkatnya kepincangan dalam mutu hasil pendidikan. tanpa intervensi pengelolaan, anggota masyarakat dari daerah kabupaten/kota yang kaya dengan jumlah penduduk sedikit akan dapat menikmati fasilitas pendidikan yang jauh lebih baik dari anggota masyarakat dari daerah yang miskin. Dan apabila kesempatan pendidikan ini juga mempengaruhi kesempatan untuk memperoleh penghasilan, maka dalam jangka panjang akan berpotensi meningkatnya jurang kesenjangan ekonomi antar daerah.

Kelima, peran serta masyarakat. Bahwa salah satu tujuan UU Pemerintah Daerah adalah untuk memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas, meningkatkan peran serta masyarakat, dan seterusnya. Peran serta masyarakat dalam pendidikan dapat berupa perorangan, kelompok atau lembaga industri. Dalam kerangka otonomi daerah, kecenderungan peran serta tersebut menjadi terbatas pada lingkup daerah kabupaten/kota yang bersangkutan, dengan demikian pada masyarakat yang kaya, penyelenggaraan pendidikan di daerah didukung selain dari peran serta orang tua juga oleh masyarakat sehingga memperoleh sumber dana yang relatif baik, dan sebaliknya untuk daerah yang miskin. sebab itu tanpa intervensi kebijakan nasional yang dapat menerapkan subsidi silang, peran serta masyarakat dalam sistem desentralisasi akan dapat menjurus memperlebar jurang ketimpangan pemerataan fasilitas pendidikan, yang akhirnya juga akan memperlebar jurang kesenjangan ekonomi antar daerah.

Keenam, akuntabilitas. Bahwa melalui otonomi pengambilan keputusan yang menyangkut pelaksanaan layanan jasa pendidikan akan semakin mendekati masyarakat yang dilayaninya (klien) sehingga akuntabilitas layanan tersebut bergeser dari yang lebih berorientasi kepada kepentingan pemerintah pusat kepada akuntabilitas yang lebih berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Ini menuntut lebih besar partisipasi masyarakat dan orang tua dalam pengambilan keputusan tentang pelaksanaan pendidikan di daerah.

Keenam permasalahan tersebut perlu dipertimbangkan lebih mendalam. Paling tidak, sebelum benar-benar otonomisasi itu dijalankan dan sebelas bidang di atas diserahkan sepenuhnya pada daerah, maka perlu dilakukan pengkondisian lebih dulu dengan memperhatikan sumber dana dan sumber daya yang dimiliki masing-masing daerah. Setelah dianggap mampu menjalankan otonomi, maka kebijakan tersebut dapat diberlakukan sepenuhnya.

Itulah beberapa dampak otonomi daerah pada pendidikan di Indonesia(sumber: makalah "PERSOALAN-PERSOALAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM")

Kesalehan Ritual Dan Kesalehan Sosial - Celotehan Warung Kopi

Memahami Prilaku Keagamaan Umat Tentang Kesalehan Ritual Dan Kesalehan Sosial


KESALEHAN RITUAL DAN KESALEHAN SOSIAL
Kedua istilah yang menjadi tema tulisan ini, yakni saleh ritual dan saleh sosial, muncul untuk memberikan penamaan terhadap tipologi sikap dan perilaku keagamaan umat yang boleh dikatakan tidak utuh, parsial. Seperti narasi di atas, kesalehan ritual merupakan jenis kesalehan yang ukurannya ditentukan berdasarkan seberapa taat seseorang menjalankan salat lima waktu, seberapa panjang zikir-zikir sesudah salat, dan seberapa sering salat sunat ia lakukan. Pokoknya kesalehan dalam jenis ini ditentukan berdasarkan ukuran serba legal formal sebagaimana kata ajaran. Dan biasanya, orang yang memiliki perilaku ini merasa memiliki otoritas buat menilai kredibilitas moral orang lain, ia menjadi semacam tim pemeriksa dan penilai keimanan orang lain.

Sementara itu kesalehan sosial merupakan bentuk kesalehan yang lebih ditentukan oleh kehidupan praktis seseorang, seberapa banyak kegiatan-kegiatan sosial yang ia lakukan, seberapa jauh rasa toleransi, kepedulian terhadap sesama, cinta kasih, harga-menghargai, dan perilaku lainnya yang berdimensi sosial. Kesalehan sosial memandang bahwa kesalehan tidak ditentukan oleh doa-doa, zikir-zikir, dan ritualitas keagamaan lainnya yang lebih mengesankan sikap hidup egoistis, tetapi kesalehan itu ada pada perwujudan, manifestasi dan apresiasi keimanan dalam praksis sosial. Dalam bentuknya yang lebih ekstrim, kesalehan sosial ini kadang menafikan keimanan dan legal formal agama tetapi mereka aktif dalam kegiatan kemanusiaan dan kegiatan-kegiatan sosial, prilaku demikian dikatakan oleh Nurcholis sebagai “kesalehan sosial tanpa iman” (piety without faith).

Kedua tipologi kesalehan di atas hadir dalam praktis kehidupan keagamaan umat dan menjadi wacana serta diskursus dalam diskusi dan forum-forum ilmiah untuk mendapatkan gambaran antara realitas dengan pesan moral-ideal agama.

Kesalehan Ritual

Diantara kedua kesalehan di atas, kesalehan dalam bentuk pertama sering diapresiasikan oleh sebagian besar umat, sebuah sikap dan perilaku keagamaan yang parsial, egoistis dan individualistik. Orang lebih bersemangat menjalankan sebagian ibadah-ibadah sunnah seperti zikir, salat, puasa, dll. dari pada ibadah-ibadah sosial seperti mengurus kepentingan umum, bersilaturrahmi, membantu kesulitan tetangga, dan menyelesaikan problem kemiskinan. Orang merasa lebih beragama dibanding yang lain jika telah memperhatikan aspek simbol-simbol (syiar) keagamaan, kuantitas dan masalah-masalah furu’ seperti memelihara jenggot, membangun masjid. Tetapi mereka hampir tidak mempedulikan terhadap persoalan-persoalan subtansial, esensial dan kualitas masyarakat. Orang lebih memprioritaskan ibadah haji thathawwu” (haji kedua dst) dari pada membiayai anak tetangga yang hampir putus sekolah karena tidak dapat membayar SPP, atau orang lebih suka meng-haji-kan orang miskin yang belum mempunyai tempat tinggal daripada membantunya agar mempunyai rumah, dan seterusnya.

Dalam perspektif syariah, Qardlawi ((1995) juga melihat praktek-praktek keagamaan di berbagai negara muslim yang dinilai: (1) mementingkan hal-hal yang bersifat simbul (syiar) daripada yang subtansial; (2) memperhatikan hal-hal yang bersifat kuantitatif dan artifisial daripada yang bersifat kualitatif dan esensial; (3) mendahulukan pembentukan apa yang kita sebut ‘kesalehan individual’ daripada ‘kesalehan sosial’; (4) memprioritaskan tuntutan-tuntutan subyektif, kelompok dan golongan daripada tuntutan-tuntutan obyektifitas, masyarakat, nasional, dan dunia Islam; (5) menonjolkan pemikiran-pemikiran keagamaan skolastik dan dialektik daripada pemikiran empirik dan praktis.

Kesalehan Sosial

Kesalehan sosial, sebagaimana dijelaskan di atas, merupakan anti tesis dari perilaku dan pemahaman keagamaan umat yang mengarah pada simbolis ritual-partikularistik. Istilah kesalehan sosial juga menjadi wacana yang relatif baru seiring dengan isu seputar universalitas, kemajemukan dan pluralisme budaya dan agama. Perdebatan yang muncul ke permukaan, misalnya pertanyaan “apakah semua agama itu sama ?”, “adakah titik temu antara suatu ajaran agama tertentu dengan agama-agama lain di dunia ?”. Bahwa setiap agama dipahami mempunyai dua dimensi antara esoteris dan eksoteris, antara simbolik dan nilai-nilai yang dianggap esensi dan hakiki. Dan juga telah dipahami bahwa dalam wilayah eksoteris-historis keberbedaan itu ada, tetapi pada wilayah esoteris setiap agama menawarkan pesan perdamaian dan keselamatan, keadilan sosial dan cinta kasih”. Dalam wilayah inilah agama dipahami memiliki kesamaan (kalimatun sawa’). Bahkan menurut perspektif teologi inklusif, kesamaan itu juga ada pada wilayah tauhid, bahwa seluruh isi al-Qur’an dan kitab suci sebelumnya adalah pesan Tuhan. Pesan-pesan tersebut menegaskan bahwa perintah Tuhan itu sama untuk pengikut Muhammad saw. dan mereka yang menerima kitab suci Muhammad saw, yaitu pesan yang berisi untuk selalu taqwa kepada Allah.

Implikasi perdebatan di atas, bagi kalangan muslim tertentu (misalnya mahasiswa) yang memiliki pemikiran yang agak liberal, adalah munculnya pandangan dan sikap bahwa esensi ajaran agama itu lebih penting dari simbol-simbol agama, bahwa nilai-nilai hakiki itulah yang harus dijalankan bukan ajaran yang berupa legal formal, sebab itu mereka kadang memiliki sikap dan perilaku keagamaan yang mementingkan pesan moral agama berupa perdamaian, toleransi, kerja sosial dan perilaku lain yang mengarah pada pemupukan saleh sosial, tetapi pada dimensi lain mereka kadang menafikan ritualitas keagamaan, seperti tidak menjalankan salat, puasa, haji, dan seterusnya. Impliksi yang lebih parah lagi ketika mereka menafikan kedua-duanya, perdebatan seputar universalitas dan pluralitas hanya memunculkan arogansi dan liberalisasi pemikiran semata dan tidak dimaksudkan untuk mencari kebenaran hakiki. Meskipun dimaksudkan untuk mencari kebenaran itu, tetapi hanya dalam bentuk wacana, karena pada saat bersamaan tidak ada follow up berupa sikap dan tindakan. (sumber : makalah "KESALEHAN RITUAL DAN KESALEHAN SOSIAL")

Download Fast Load SEO Friendly Blogger Template - Celotehan Warung Kopi

Cemonggaul Template yang SEO Friendly sekaligus fast load

Celotehan Warung Kopi - Hari ini saya ingin berbagai satu buah template yang dulu pernah saya buat sendiri dari nol dan seiring berjalannya waktu sudah melewati berbagai edit dan sekarang insyaallah sudah siap dipakai. Template ini saya beri nama sesuai dengan nama online saya yaitu Cemonggaul template

Untuk tampilan templatenya hampir mirip dengan template yang saya pakai ini. Yang berbeda hanyalah sedikit pengaturan posisi dan juga warnanya. Karena Cemonggaul template ini juga adopsi dari theme saya untuk Celotehan Warung Kopi ini. 
Screen Shoot
Download fast load SEO friendly blogger template homepage
Tampilan Homepage

Download fast load SEO friendly blogger template single post
Tampilan single post

Ketentuan Penggunaan Cemonggaul Theme


Bila Anda ingin menggunakan template blogger yang saya buat ini, ada beberapa hal yang harus Anda patuhi dalam menggunakannya. 
  • Tidak boleh digunakan pada blog yang berbau SARA, mesum, perjudian, warez, ilegal content
  • Tidak boleh menghilangkan credit yang ada di footer maupun yang ada di CSS
  • Tidak boleh diperjualbelikan, dihadiahkan, maupun dibuat sebagai bonus produk Anda

Fitur Cemonggaul Theme


  • Fast load
  • Sedikit minisite
  • 2 kolom
  • Dynamic heading
  • Auto title + alt thumbnail
  • SEO friendly menurut saya
  • Breadcrumb indeks search engine
  • Rich snippet bintang
  • Integrasi ads
Demo : Klik disini
Download : Klik disini

The Use of Visual Aids and Teching Methods - Thesis

The Use of Visual Aids and Teching Methods - Thesis
Suminten Yuliani, 2012. Influence Students Perceptions about The Use of Visual Aids and Teching Methods to The Class VI Student Achievement, Elementary School IV Pulosari Ngunut Sub District Tulungagung Regency. Thesis of Educational Magister for Social Studies Major Post Graduate Program Kanjuruhan University of Malang. Advisor Commissions, Chair : Dr. Lilik Kustiani, SS., MM., Member : Drs. H. M. Amir Sutedjo, S.Pd., M.Pd.

Key Words : Student Perceptions, use of props and methods of teaching and learning achievement.

Education problem that was faced by Indonesia was the low of education quality in every level especially elementary and intermediate level. Beside that education quality had not shown an equal improvement yet. In line with those problems, headmaster, teacher and counselor was requested to prepare student to get achievement maximally. Thus teacher ability in motivating student to get achievement was important. Just at the moment teacher ability in guiding student in choice The Use of Visual Aids and efficient Teching Methods.

The objectives of this research were : (1) to know whether there was significant effect of student perception about the use of visual aids toward sixth grade student learning achievement in SDN IV Pulosari Ngunut Sub District Tulungagung Regency, (2) to know whether there was significant effect of student perception about Teching Methods toward sixth grade student learning achievement in SDN IV Pulosari Ngunut Sub District Tulungagung Regency, (3) to know whether there was significant effect of student perception toward sixth grade student learning achievement in SDN IV Pulosari Ngunut Sub District Tulungagung Regency.

Population of this research was sixth grade student learning achievement in SDN IV Pulosari Ngunut Sub District Tulungagung Regency the amount was 40 students. Because the amount of the subject was not relative a lot (40 person), thus population of this research was surfeited sample technique, the amount of the subject population of this research.

The result of this research were : (1) The result of this research be expected get rewarding finding empirical provide about significant effect of student perception about the use of visual aids toward sixth grade student learning achievement in SDN IV Pulosari Ngunut Sub District Tulungagung Regency, (2) The result of this research can be used as information material to education institution primary scholl specially to do wisdom adaptation and activity, so that can increasing graduation quality, (3) add reference for another researche in analyze education institution, specially with that problem to developed further.

Download full thesis Influence Students Perceptions about The Use of Visual Aids and Teching Methods to The Class VI Student Achievement, Elementary School IV Pulosari Ngunut Sub District Tulungagung Regency here

Guru Dipecat Karena Membintangi Video Tak Senonoh

Berita Warung Kopi - Seorang guru sekolah menengah di Oxnard dipecat dari jabatannya lantaran membintangi film tak senonoh. Suatu hal yang sudah cukup pantas dia terima mengingat profesinya sebagai tenaga pendidik yang seharusnya menjadi teladan bagi siswanya. Seperti yang dikatakan pengacaranya “dia dipecat dari pekerjaan setelah vidionya ditemukan para guru dan siswa di internet.”

Para hakim pengadilan  dengan suara bulat sepakat bahwa Stacie Halas, 32th, tidak layak untuk mengajar di kelas. Halas dipecat pada bulan April dari pekerjaannya sebagai guru science di sekolah menengah Heydock yang terletak di Oxnard.

"Meskipun karir pornografi ('Halas) telah selesai,namun video tak senonohnya di Internet akan terus menghalangi dia dari profesinya menjadi seorang guru yang efektif dan dihormati rekan-rekannya," tulis Hakim Julie Cabos-Owen dalam keputusan 46 halaman yang dikeluarkan oleh Komisi Kompetensi Profesional.

Pengacaranya Richard Schwab mengatakan bahwa Halas telah mencoba untuk jujur tapi malu oleh pengalaman sebelumnya dalam industri dewasa. "Nona Halas adalah lebih dari sekedar pertempuran individu untuk pekerjaannya sebagai seorang guru" kata pengacaranya. "Saya pikir dia mewakili banyak orang yang mungkin memiliki masa lalu yang mungkin tidak melibatkan sesuatu yang ilegal atau apapun dan yang menyakiti siapa pun" lanjutnya.

Schwab juga mengatakan dalam pembelaannya bahwa Halas tidak membintangi film porno saat mengajar di distrik manapun. Dia mengatakan dia melakukannya hanya selama periode delapan bulan antara 2005-2006 karena masalah keuangan setelah pacarnya meninggalkannya.

Kepala daerah Jeff Chancer memuji keputusan pengadilan. Keputusan Halas yang terlibat dalam pornografi jelas tidak sesuai dengan tanggung jawabnya sebagai panutan bagi siswa dan akan menyajikan gangguan, bagi sekolah apabila ia teta menjadi guru," kata Chancer dalam sebuah pernyataan. (Diterjemahkan dari dailynews)

Catatan redaksi Warung Kopi ; Suatu pelajaran yang tak patut dicontoh oleh guru khususnya yang ada di Indonesia yang notabene beradat ke-timuran. Guru seharusnya bisa menjadi contoh dan teladan yang baik bagi muridnya. Kalau gurunya saja berkelakuan seperti ini, bagaimana dengan muridnya? Semoga guru di Indonesia tidak ada yang berkelakuan seperti itu.

Cara Menulis Karya Ilmiah Yang Baik - Celotehan Warung Kopi

Menulis Membutuhkan Kreatifitas dan Latihan


Menulis, dalam pengertian yang sesungguhnya (karya ilmiah) adalah pekerjaan yang sering disebut gampang-gampang susah, artinya gampang dilakukan jika ada hasrat dan kemauan, dan susah jika tidak ada kemauan. Biasanya sulit untuk memulai tetapi mudah jika sudah terbiasa. Bahkan kalau orang sudah terbiasa menulis, terasa resah kalau ia tidak menulis.



Sebagaimana pekerjaan profesional lainnya, maka menulis perlu latihan dan keberanian untuk salah dan gagal (trial and error). Tanpa kemauan dan berani untuk gagal (sementara) maka jangan harap untuk berhasil. Tentu di samping modal kemauan, perlu juga modal lain, yaitu membaca, membaca literatur. Ini tidak boleh tidak, sebab semakin kita banyak membaca, semakin kaya ide. Dan menulis memerlukan ide dan kreativitas.

Perbedaan Menulis Karya Ilmiah Populer Dan Menulis Karya Ilmiah Formal

Karya tulis ilmiah populer

Karya tulis biasanya dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: karya tulis ilmiah populer dan karya tulis ilmiah formal. Karya tulis ilmiah populer dimaksudkan adalah karya tulis yang dipersiapkan untuk publikasi dalam suatu penerbitan di surat kabar atau majalah populer. Biasanya karya tulis yang demikian mengambil tema-tema aktual, yang sedang hangat diisukan (issu-issu kontemporer), bukan issu yang sudah kadaluarsa. Oleh karena itu teknik penulisan dan bahasa yang digunakan bersifat populer, renyah dan enak dibaca, dan lebih sederhana sifatnya. Misalnya dalam surat kabar tidak digunakan teknik catatan kaki dan daftar pustaka, demikian pula dalam majalah-majalah populer pada umumnya.

Karya tulis ilmiah formal

Sedang karya tulis ilmiah formal dimaksudkan adalah karya tulis yang dipersiapkan untuk kepentingan-kepentingan formal, misalnya untuk usulan penelitian (proposal) seminar, munaqasyah, jurnal dan seterusnya. Pada umumnya karya tulis yang demikian terikat oleh kaidah-kaidah atau metode penulisan dan bahasa yang ketat, dan harus mencantumkan sumber penulisan (catatan kaki dan daftar pustaka). Tema-tema yang diangkat lebih bersifat khusus dan mendalam. Termasuk karya tulis semacam ini adalah disertasi (untuk S3), tesis (untuk S2), skripsi (untuk S1) dan paper atau makalah untuk kepentingan formal.

Dalam karya tulis ilmiah setidaknya ada dua jenis penulisan, yaitu jenis penulisan yang bersifat deskriptif-informatif dan penulisan yang bersifat analitis-kritis. Deskriptif-informatif artinya tulisan tersebut hanya menggambarkan dan menuturkan informasi kepada orang lain, dan analitis kritis dimaksudkan, tulisan tersebut di samping menuturkan informasi, juga memberikan analisis secara kritis dan mendalam. Oleh sebab itu jenis tulisan ini juga bisa disebut deskriptif-analitis-kritis. Tulisan yang baik tentu yang memiliki sifat seperti ini. Sebagaimana ciri berpikir keilmuan atau berpikir ilmiah ditandai oleh beberapa hal, yaitu: rasional-logis, objektif, universal, sistematis-koheren (metodologis), atau bercirikan logico hipotetico-verifikatif.

Langkah-langkah Menulis Karya Ilmiah

Bagaimana memulai menulis? Sebelum memulai menulis setidaknya ada dua langkah yang mesti diperhatikan: pertama, mencari tema dan topik; kedua, merumuskan masalah; ketiga, memecahkan masalah. Kadang-kadang kalau dipikir, ilmuwan itu pekerjaannya “mencari masalah”. Mencari-cari masalah untuk dipecahkan sendiri jalan keluarnya. Inilah sikap kreatif ilmuwan.

Mencari masalah itu berbagai macam cara dan perolehannya. Masalah bisa ditemukan lewat perenungan, pengamatan, diskusi, membaca, ngobrol dengan teman, dan seterusnya. Misalnya, ketika kita sedang mengamati fenomena sosial di sekeliling kita, mungkin kita bisa menemukan masalah kesenjangan sosial (antara si kaya dan si miskin), yang kemudian menimbulkan kecemburuan, sikap berontak sebagian masyarakat tertentu lantas menimbulkan kriminalitas, kenakalan remaja dan seterusnya.

Bagaimana mengatasi masalah tersebut? Kenapa demikian? Bagaimana dengan pendidikan kita? Di sini pendidikan menjadi sorotan. Masalah-masalah tersebut sifatnya masih umum, maka kita perlu memperkecil ruang lingkupnya dan kita rumuskan sedemikian rupa, jelas dan mengarah. Sehingga perumusan masalah itu akan mudah dipecahkan. Perumusan masalah itu dibuat dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang spesifik. Misalnya, perumusan tentang Kenakalan Remaja di SMU X. Tentang kenakalan remaja tersebut dibuat dengan pertanyaan sebagai berikut: Kenapa terjadi kenakalan remaja?Apa faktor-faktor kenakalan remaja?Apa bentuk dan jenis kenakalan yang dilakukan?Apa usaha-usaha yang dilakukan SMU X dalam menanggulangi kenakalan remaja tersebut?

Tetapi ini berbeda dengan menulis karya ilmiah yang bersifat essai atau artikel yang disajikan dalam surat kabar atau majalah populer. Tulisan dalam surat kabar atau majalah populer tersebut masih bersifat umum dan simpel, tetapi cukup kritis dan analitis. Misalnya tulisan-tulisan kolom, refleksi, opini, tajuk, editorial, dan seterusnya. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba. (Penulis : M. Zainudin)
 
Copyright © Celotehan Warung Kopi